Ada banyak macam ragam parcel niy, mulai dari harga Rp70.000,- ayo diorder... (Bisa minta design sesuai style & keinginan konsumen)
Rabu, 17 Agustus 2011
Kamis, 04 Agustus 2011
Parcel Coklat Cantik Buat Konsumen Nyentrik, ayo..ayo di order ya...
Parcel Coklat utk acara2 istimewa; hari raya, ultah, pernikahan,seserahan, tahun baru dll seharga mulai dari Rp 70.000,-
(bisa pilih motif coklat dan tema design parcel).
Ket: Coklat yg dipakai 100% halal, proses pembuatan bersih, higienis dan memakai pewarna makanan yg aman utk dikonsumsi .
Anda Berminat ?? hubungi : Bunda Asa (021)9386-0830, 0813-10-3131-34 boleh sms atau telpon...bisa juga lwt email tini.salsabila@gmail.com atau asa010609@yahoo.com
(bisa pilih motif coklat dan tema design parcel).
Ket: Coklat yg dipakai 100% halal, proses pembuatan bersih, higienis dan memakai pewarna makanan yg aman utk dikonsumsi .
Anda Berminat ?? hubungi : Bunda Asa (021)9386-0830, 0813-10-3131-34 boleh sms atau telpon...bisa juga lwt email tini.salsabila@gmail.com atau asa010609@yahoo.com
Lengkapi Hari Ceriamu dgn Coklat Stick....



Coklat stick dgn pegangan plastic (aman utk anak2). Dijual per satuan Rp 2.000,- minimal pemesanan 20 buah (untuk pemesanan di atas 30 stick, diskon 30 %)
Motif macam2 : Bunga, Kartun lucu2, smiley, lolypop, dll. Bisa minta motif pesanan, trgantung selera pemesan.
Promo lagi niy..... FREE ONGKOS KIRIM UTK WILAYAH JAKARTA !!
Utk pemesanan, hub: Bunda Asa di (021)9386-0830, 0813-10-3131-34
atau email jg boleh tini.salsabila@gmail.com atau asa010609@yahoo.com
Promo Coklat Utk Hari Raya & acara2 istimewa
SAFIRA CHOCOLATOS
Paket Promo Ramadhan, Idul Fitri & event2 penting; ultah, pernikahan, seserahan,syukuran , dll.
Motif coklat praline bermacam-macam ; ada motif kipas, bunga, boneka, bintang, hati / love, motif biji coklat warna-warni, motif kartun lucu-lucu, dll (konsumen bisa pilih motif/tergantung selera pemesan).
Ukuran toples : toples berbentuk lingkaran, berdiameter 10 cm. Berat toples & isi coklat : sekitar 300 gr/toples.
Coklat Praline, 3 toples coklat praline seharga Rp.100.000,- (free ongkos kirim utk wilayah Jakarta).
Sabtu, 02 Januari 2010
Sang penyelamat
Seperti biasanya pagi ini sebelum berangkat ke sekolah, Peleng selalu membuntuti kemana kaki Ochy melangkah. Saat Ochy, Ayah dan Ibu sarapan pun, Peleng selalu ikut sarapan di kebun samping rumah. Makanannya bukanlah snack instant untuk binatang piaraan seperti yang dijual di department store atau swalayan, melainkan hanya nasi putih dan ikan pindang. Kucing kampung itu memang telah akrab dengan Ochy dan sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Tiga tahun silam, kucing yang berwarna hitam putih itu ditemukan oleh Mas Arco, kakaknya Ochy, di halaman depan rumah. Keadaannya sangat memprihatinkan. Kaki depannya terluka seperti habis dibacok pisau, jalannya miring tidak seimbang, tampak kotor dan terkulai lemah. Ia tidak tega melihat kucing yang kepayahan. Setelah mendapat persetujuan dari ayah dan ibu, akhirnya Mas Arco dan Ochy diizinkan untuk memelihara Peleng. Syaratnya hanya satu yakni tetap menjaga kebersihan dan tidak mengabaikan pemeliharaannya.
“Sudah setahun terakhir ini, Mas Arco indekost di kota lain sambil kuliah. Pulangnya hanya seminggu sekali. Otomatis Peleng jadi lebih dekat denganku dan tanggung jawabku untuk memelihara serta menjaganya pun lebih besar”, batin Ochy dalam hati. “Ochy, makannya jangan terlalu lambat. Sudah hampir setengah tujuh, ayo lekas…nanti kamu telat ke sekolah lho!” suara Ibu membayarkan lamunan Ochy tentang Peleng. Ia pun segera mempercepat makannya.
Ketika sarapan pagi selesai, Ochy buru-buru membantu Ayah dan Ibu memasukkan koper dan sebuah tas berukuran sedang ke dalam mobil. Hari ini Ayah akan pergi ke Bandung selama empat hari untuk menyelesaikan proyek pembangunan Mal di kota kembang tersebut. Ochy dan Ayah berpamitan pada Ibu dan Bik Aan. Ochy diantar ke sekolah oleh Ayah dan selanjutnya Ayah memacu kendaraannya menuju Stasiun Gambir supaya tidak ketinggalan kereta.
“Assalamu’alaikum…Ochy pulang nih…” sapa Ochy pada orang rumah. “Oh, neng Ochy. Baru pulang ya neng? Kok sore amat?” tanya Bik Aan pada Ochy. “Iya nih Bik, tadi ada latihan tari untuk acara perpisahan kelas enam SD Harapan Jaya. Terus setelah itu kalau hari Senin seperti ini kan ada jadwal les bahasa Inggris, jadi baru tiba di rumah jam lima.” jawab Ochy. “Eh Bik, Ibu sama Peleng mana kok tidak kelihatan, sepi-sepi aja?” tanya Ochy. “Itu neng, kalau Ibunya neng Ochy sedang tugas ke rumah sakit membantu orang melahirkan, baru aja sepuluh menit yang lalu pergi. Tapi kalau Peleng ada di halaman belakang sedang Bibik sembunyikan.”
“Sembunyikan? Maksudnya? Sembunyikan gimana, Bik?” dengan kening berkerut, Ochy segera memburu pertanyaan kepada Bik Aan. “Iya neng, tadi siang ada dua orang datang ke sini, Bibik dan Ibumu tidak kenal mereka. Mereka berniat untuk mengikutsertakan Peleng dalam produk iklan makanan hewan. Tapi orangnya itu kok mencurigakan ya? Setelah bicara panjang lebar ujung-ujungnya mereka malah minta Ibumu menyerahkan Peleng kepada mereka. Katanya dua orang itu akan mendidik dan mengajari Peleng ber-acting di depan kamera. Jelas saja Ibunya neng menolak, karena orang-orang itu tidak jelas asal-usulnya dan akhirnya dengan agak sewot mereka pergi. Eh neng, tapi mereka mengancam lho! katanya suatu saat mau ke sini lagi.” kalimat terakhir dari Bik Aan membuat Ochy khawatir apalagi saat itu Ibunya tidak berada di rumah. “Ya sudah bik, ayo lekas kunci semua pintu, jendela dan pagar depan.” pinta Ochy.
Ochy segera berjalan ke halaman belakang tempat Peleng disembunyikan. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ke sudut, ke bawah meja, ke bawah kursi, ke kebun samping dan ke atas langit-langit rumah pohon di halaman belakang. Namun Peleng tetap tidak terlihat. “Puss.. puss...puss…” teriaknya. Biasanya kalau dipanggil keras seperti itu Peleng akan segera muncul karena ia kenal betul bahwa itu adalah panggilan untuk makan. Ochy lari ke dalam rumah menemui Bik Aan. “Bik...Bik Aan, Peleng Hilang!!!” Raut wajah Bik Aan cemas, tangannya gemetar. “Tadi sesaat sebelum neng Ochy pulang, masih ada kok? Pas Ibunya neng mau pergi, Peleng juga sempat ikut ke garasi. Baru setelah Ibumu pergi, Peleng saya gendong, terus saya taruh di halaman belakang. Nah, tidak lama, lima menit setelah itu neng Ochy kan pulang.” Jawab Bik Aan menjelaskan. Ochy segera menelepon Ibunya. Beliau menghibur Ochy, “Ya sudah, tenang saja jangan panik. Tugas Ibu sudah selesai. Dokter yang giliran piket malam, sudah datang. Sebentar lagi Ibu pulang, kamu sabar ya nak!” ujarnya menenangkan.
Malam itu Ochy sangat sedih sekali. Ia takut jikalau misteri hilangnya Peleng ada kaitannya dengan dua orang yang tak dikenal yang tadi siang datang ke rumahnya. Termasuk juga ancaman yang dilontarkan oleh mereka kepada Bik Aan. Malam itu juga Ochy segera menghubungi Ayahnya serta Mas Arco untuk menceritakan misteri hilangnya Peleng. Namun karena kesibukan aktivitas yang sedang mereka hadapi dan tidak bisa ditinggalkan, Mas Arco dan Ayahnya tetap tidak dapat segera pulang ke rumah untuk membantu mencari Peleng.
Keesokan harinya, Ochy, Ibunya dan juga Bik Aan segera mencari Peleng ke tempat-tempat biasanya ia bermain, seperti ke rumah tetangga dan taman komplek. Namun tetap tidak ditemukan juga. Malam harinya sesudah makan malam, Ochy dan Ibunya duduk-duduk di ruang tengah untuk menonton televisi. Tiba-tiba dari arah belakang rumah terdengar suara kucing mengeong seperti suara Peleng. Ochy segera berlari. Ibunya pun mengikuti dari belakang. Tapi ternyata, Peleng tidak ditemui. Dengan kecewa mereka berdua pun kembali ke ruang tengah. Satu jam kemudian terdengar lagi suara kucing, tetapi ketika dihampiri ke tempat asal suara, tetap tidak ditemui. Hal itu sempat terjadi berulang hingga tiga kali. Aneh dan misterius, ada suara kucing tetapi tidak ada wujud kucingnya. Pikiran Ochy berkecamuk. Ia sering membaca kisah-kisah horor tentang kucing hitam, suara hantu kucing dan firasat atau pertanda buruk yang dibawa oleh kucing. Ochy takut sekali. Ia mengikuti Ibunya terus, ia tidak mau jauh dari Ibunya. Apalagi saat itu malam jumat. Halusinasinya melayang, Ochy memang anak yang penakut. Ia sering membayangkan kejadian yang tidak-tidak. Ia berpikir jangan-jangan Peleng sudah mati dan suara yang didengarnya itu adalah arwahnya Peleng. “Tidak……!!!” teriaknya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ibunya menenangkan dan menghibur Ochy.
Deng…Deng…Deng…bunyi sepuluh kali dentangan jam dari ruang tengah mengagetkan ia dan Ibunya. Baru saja Ochy dan Ibunya bersiap-siap untuk tidur, tetapi tiba-tiba terdengar lagi suara kucing mengeong. Kali ini lebih keras dan lebih gaduh dari yang sebelumnya. Arahnya dari kebun samping rumah. Kami segera mneghampirinya. Namun ketika Ochy dan Ibunya membuka pintu samping, dua orang yang bertopeng dengan golok yang mengkilap di tangan telah menghadang kami di depan pintu.
Kami disandera oleh perampok yang kemarin siang bertamu ke rumah. Dengan cekatan, mereka menguras habis isi rumah. Tangan Ochy, Ibunya dan Bik Aan diikat, mulutnya disumbat kain dan disuruh berdiri bersandar pada jendela. “Hahahahahahahaha…, mudah sekali kami mengelabui kalian. Hanya dengan suara kucing rekaman dari tape ini, kalian bisa dengan mudah kami ringkuk sekarang!” “Huahahahahahaha….…“ tawa mereka penuh kemenangan. Rupanya perampok itu telah merekam suara kucing untuk menakut-nakuti dan menarik perhatian penghuni rumah agar keluar, sehingga mereka dapat dengan mudah masuk dan menyandera penghuni rumah.
Ochy meronta-ronta dan mengerang keras. Tubuhnya menggoncang-goncangkan jendela yang jadi sandarannya. Kayu jendela yang sudah tua dan lapuk terdengar sedikit bergetar ketika Ochy mendorong-dorong tubuhnya ke belakang. “Braaaaaakkk!!!” Jendela model tahun 70-an dengan motif horizontal tersebut ambruk. Hal itu dimanfaatkan oleh ketiga sandera untuk membuat kegaduhan dan menarik perhatian tetangga. Kedua perampok segera keluar dari kamar dan panik karena mendengar kegaduhan dari arah dapur. Ketika perampok ingin menghampiri para sandera tiba-tiba dari luar jendela yang ambruk, lompatlah Peleng dan menyerang kedua penjahat itu. Cakarnya mencengkeram dan merobek kulit leher perampok. Suasana gaduh tak dapat dihindari, tetanggapun berdatangan. Akhirnya kedua perampok berhasil diringkus dan diserahkan ke Polisi. Dari informasi yang digali oleh Polisi, keluarga Ochy mengetahui bahwa rencana perampok untuk mengikutsertakan Peleng dalam iklan produk makanan hewan hanyalah akal-akalan saja. Tujuan utama penjahat tersebut datang ke rumah Ochy adalah untuk melihat isi rumah yang akan dijadikan sasaran perampokan.
Tiga tahun silam, kucing yang berwarna hitam putih itu ditemukan oleh Mas Arco, kakaknya Ochy, di halaman depan rumah. Keadaannya sangat memprihatinkan. Kaki depannya terluka seperti habis dibacok pisau, jalannya miring tidak seimbang, tampak kotor dan terkulai lemah. Ia tidak tega melihat kucing yang kepayahan. Setelah mendapat persetujuan dari ayah dan ibu, akhirnya Mas Arco dan Ochy diizinkan untuk memelihara Peleng. Syaratnya hanya satu yakni tetap menjaga kebersihan dan tidak mengabaikan pemeliharaannya.
“Sudah setahun terakhir ini, Mas Arco indekost di kota lain sambil kuliah. Pulangnya hanya seminggu sekali. Otomatis Peleng jadi lebih dekat denganku dan tanggung jawabku untuk memelihara serta menjaganya pun lebih besar”, batin Ochy dalam hati. “Ochy, makannya jangan terlalu lambat. Sudah hampir setengah tujuh, ayo lekas…nanti kamu telat ke sekolah lho!” suara Ibu membayarkan lamunan Ochy tentang Peleng. Ia pun segera mempercepat makannya.
Ketika sarapan pagi selesai, Ochy buru-buru membantu Ayah dan Ibu memasukkan koper dan sebuah tas berukuran sedang ke dalam mobil. Hari ini Ayah akan pergi ke Bandung selama empat hari untuk menyelesaikan proyek pembangunan Mal di kota kembang tersebut. Ochy dan Ayah berpamitan pada Ibu dan Bik Aan. Ochy diantar ke sekolah oleh Ayah dan selanjutnya Ayah memacu kendaraannya menuju Stasiun Gambir supaya tidak ketinggalan kereta.
“Assalamu’alaikum…Ochy pulang nih…” sapa Ochy pada orang rumah. “Oh, neng Ochy. Baru pulang ya neng? Kok sore amat?” tanya Bik Aan pada Ochy. “Iya nih Bik, tadi ada latihan tari untuk acara perpisahan kelas enam SD Harapan Jaya. Terus setelah itu kalau hari Senin seperti ini kan ada jadwal les bahasa Inggris, jadi baru tiba di rumah jam lima.” jawab Ochy. “Eh Bik, Ibu sama Peleng mana kok tidak kelihatan, sepi-sepi aja?” tanya Ochy. “Itu neng, kalau Ibunya neng Ochy sedang tugas ke rumah sakit membantu orang melahirkan, baru aja sepuluh menit yang lalu pergi. Tapi kalau Peleng ada di halaman belakang sedang Bibik sembunyikan.”
“Sembunyikan? Maksudnya? Sembunyikan gimana, Bik?” dengan kening berkerut, Ochy segera memburu pertanyaan kepada Bik Aan. “Iya neng, tadi siang ada dua orang datang ke sini, Bibik dan Ibumu tidak kenal mereka. Mereka berniat untuk mengikutsertakan Peleng dalam produk iklan makanan hewan. Tapi orangnya itu kok mencurigakan ya? Setelah bicara panjang lebar ujung-ujungnya mereka malah minta Ibumu menyerahkan Peleng kepada mereka. Katanya dua orang itu akan mendidik dan mengajari Peleng ber-acting di depan kamera. Jelas saja Ibunya neng menolak, karena orang-orang itu tidak jelas asal-usulnya dan akhirnya dengan agak sewot mereka pergi. Eh neng, tapi mereka mengancam lho! katanya suatu saat mau ke sini lagi.” kalimat terakhir dari Bik Aan membuat Ochy khawatir apalagi saat itu Ibunya tidak berada di rumah. “Ya sudah bik, ayo lekas kunci semua pintu, jendela dan pagar depan.” pinta Ochy.
Ochy segera berjalan ke halaman belakang tempat Peleng disembunyikan. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ke sudut, ke bawah meja, ke bawah kursi, ke kebun samping dan ke atas langit-langit rumah pohon di halaman belakang. Namun Peleng tetap tidak terlihat. “Puss.. puss...puss…” teriaknya. Biasanya kalau dipanggil keras seperti itu Peleng akan segera muncul karena ia kenal betul bahwa itu adalah panggilan untuk makan. Ochy lari ke dalam rumah menemui Bik Aan. “Bik...Bik Aan, Peleng Hilang!!!” Raut wajah Bik Aan cemas, tangannya gemetar. “Tadi sesaat sebelum neng Ochy pulang, masih ada kok? Pas Ibunya neng mau pergi, Peleng juga sempat ikut ke garasi. Baru setelah Ibumu pergi, Peleng saya gendong, terus saya taruh di halaman belakang. Nah, tidak lama, lima menit setelah itu neng Ochy kan pulang.” Jawab Bik Aan menjelaskan. Ochy segera menelepon Ibunya. Beliau menghibur Ochy, “Ya sudah, tenang saja jangan panik. Tugas Ibu sudah selesai. Dokter yang giliran piket malam, sudah datang. Sebentar lagi Ibu pulang, kamu sabar ya nak!” ujarnya menenangkan.
Malam itu Ochy sangat sedih sekali. Ia takut jikalau misteri hilangnya Peleng ada kaitannya dengan dua orang yang tak dikenal yang tadi siang datang ke rumahnya. Termasuk juga ancaman yang dilontarkan oleh mereka kepada Bik Aan. Malam itu juga Ochy segera menghubungi Ayahnya serta Mas Arco untuk menceritakan misteri hilangnya Peleng. Namun karena kesibukan aktivitas yang sedang mereka hadapi dan tidak bisa ditinggalkan, Mas Arco dan Ayahnya tetap tidak dapat segera pulang ke rumah untuk membantu mencari Peleng.
Keesokan harinya, Ochy, Ibunya dan juga Bik Aan segera mencari Peleng ke tempat-tempat biasanya ia bermain, seperti ke rumah tetangga dan taman komplek. Namun tetap tidak ditemukan juga. Malam harinya sesudah makan malam, Ochy dan Ibunya duduk-duduk di ruang tengah untuk menonton televisi. Tiba-tiba dari arah belakang rumah terdengar suara kucing mengeong seperti suara Peleng. Ochy segera berlari. Ibunya pun mengikuti dari belakang. Tapi ternyata, Peleng tidak ditemui. Dengan kecewa mereka berdua pun kembali ke ruang tengah. Satu jam kemudian terdengar lagi suara kucing, tetapi ketika dihampiri ke tempat asal suara, tetap tidak ditemui. Hal itu sempat terjadi berulang hingga tiga kali. Aneh dan misterius, ada suara kucing tetapi tidak ada wujud kucingnya. Pikiran Ochy berkecamuk. Ia sering membaca kisah-kisah horor tentang kucing hitam, suara hantu kucing dan firasat atau pertanda buruk yang dibawa oleh kucing. Ochy takut sekali. Ia mengikuti Ibunya terus, ia tidak mau jauh dari Ibunya. Apalagi saat itu malam jumat. Halusinasinya melayang, Ochy memang anak yang penakut. Ia sering membayangkan kejadian yang tidak-tidak. Ia berpikir jangan-jangan Peleng sudah mati dan suara yang didengarnya itu adalah arwahnya Peleng. “Tidak……!!!” teriaknya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ibunya menenangkan dan menghibur Ochy.
Deng…Deng…Deng…bunyi sepuluh kali dentangan jam dari ruang tengah mengagetkan ia dan Ibunya. Baru saja Ochy dan Ibunya bersiap-siap untuk tidur, tetapi tiba-tiba terdengar lagi suara kucing mengeong. Kali ini lebih keras dan lebih gaduh dari yang sebelumnya. Arahnya dari kebun samping rumah. Kami segera mneghampirinya. Namun ketika Ochy dan Ibunya membuka pintu samping, dua orang yang bertopeng dengan golok yang mengkilap di tangan telah menghadang kami di depan pintu.
Kami disandera oleh perampok yang kemarin siang bertamu ke rumah. Dengan cekatan, mereka menguras habis isi rumah. Tangan Ochy, Ibunya dan Bik Aan diikat, mulutnya disumbat kain dan disuruh berdiri bersandar pada jendela. “Hahahahahahahaha…, mudah sekali kami mengelabui kalian. Hanya dengan suara kucing rekaman dari tape ini, kalian bisa dengan mudah kami ringkuk sekarang!” “Huahahahahahaha….…“ tawa mereka penuh kemenangan. Rupanya perampok itu telah merekam suara kucing untuk menakut-nakuti dan menarik perhatian penghuni rumah agar keluar, sehingga mereka dapat dengan mudah masuk dan menyandera penghuni rumah.
Ochy meronta-ronta dan mengerang keras. Tubuhnya menggoncang-goncangkan jendela yang jadi sandarannya. Kayu jendela yang sudah tua dan lapuk terdengar sedikit bergetar ketika Ochy mendorong-dorong tubuhnya ke belakang. “Braaaaaakkk!!!” Jendela model tahun 70-an dengan motif horizontal tersebut ambruk. Hal itu dimanfaatkan oleh ketiga sandera untuk membuat kegaduhan dan menarik perhatian tetangga. Kedua perampok segera keluar dari kamar dan panik karena mendengar kegaduhan dari arah dapur. Ketika perampok ingin menghampiri para sandera tiba-tiba dari luar jendela yang ambruk, lompatlah Peleng dan menyerang kedua penjahat itu. Cakarnya mencengkeram dan merobek kulit leher perampok. Suasana gaduh tak dapat dihindari, tetanggapun berdatangan. Akhirnya kedua perampok berhasil diringkus dan diserahkan ke Polisi. Dari informasi yang digali oleh Polisi, keluarga Ochy mengetahui bahwa rencana perampok untuk mengikutsertakan Peleng dalam iklan produk makanan hewan hanyalah akal-akalan saja. Tujuan utama penjahat tersebut datang ke rumah Ochy adalah untuk melihat isi rumah yang akan dijadikan sasaran perampokan.
Suara Piano
“Ini bu, uangnya delapan puluh ribu rupiah. Mohon diterima!” ujar Erni kepada Ibu Yohana sang pemilik rumah kos bercat putih itu. Terima kasih nak!” jawabnya sambil menyodorkan selembar kuitansi. “Nak, kamu sudah bisa tinggal disini malam ini, tempatnya sudah dibersihkan. Di sini memang sepi, tapi nyaman untuk tempat tinggal dan belajar. Kamu tentunya perlu konsentrasi yang penuh untuk belajar kan? Oh ya nak, kadang-kadang kalau malam memang suka ada suara piano, tetapi jangan dihiraukan yah, itu suara piano Pak Hendry, suami Ibu, yang suka bangun malam dan memainkan piano. Maklumlah sudah tua, sudah agak pikun. Maafkan ya kalau menganggu.” ujar Ibu Yohana menjelaskan padaku. Tidak apa-apa Bu, Erni maklum kok.” jawabku singkat.
“Ini hari pertama Erni tinggal di rumah kos ini. Tempatnya nyaman, rindang dan jauh dari keramaian. Sangat sulit sekali mendapatkan rumah kos yang bersih dan nyaman dengan harga yang murah.” gumam Erni dalam hati, sambil merebahkan diri ke tempat tidur bersprei putih.
Tidak lama ia sudah terlelap dibuai mimpi.
Keesokan paginya ketika ingin pergi ke sekolah, Erni berpapasan dengan Pak Hendry yang sedang berada di taman. Dari atas kursi roda, beliau sepertinya asyik sekali memandangi bunga-bunga Bougenville yang tumbuh merekah. “Selamat Pagi, Pak, sedang santai ya?” sapanya ramah. Beliau diam saja tak bergeming, menoleh pun tidak. Karena sudah terburu-buru, akhirnya Erni segera berlalu dan pergi. Mungkin ia tidak mendengar karena sudah tua. Dari wajahnya terlihat air muka yang tampak dingin dan datar. Sekilas, Erni melihat jemari kedua tangan Pak Hendry tidak ada, seperti orang yang pernah menderita kusta dan diamputasi. Ia tidak ingin berpikir panjang. Segera Erni mempercepat langkahnya menuju sekolah yang hanya berjarak tiga ratus meter dari tempat kos.
Malam harinya, Erni bersama Kiki, Puspa, Mbak Zulfa dan Yuli makan malam bersama. “Eh teman-teman, kemarin malam jam dua dengar tidak, ada suara piano?” tanya Kiki memulai pembicaraan. “Tidak!” jawab Puspa singkat. “Kudengar samar-samar, tapi karena keburu ngantuk, aku tidak peduli. “Aku sudah satu tahun kos di sini, kata orang-orang memang sering terdengar suara piano yang sangat misterius dari rumah ini.” ujar Mbak Zulfa menjelaskan. “Kalau aku sih tidak dengar apa-apa, mungkin terlalu lelah tidur ya, karena kecapekan beres-beres kamar.” jawab Erni. “Eh sebentar, tadi malam kan aku sempat buang air kecil sebentar sekitar jam dua, memang sih ketika lewat dekat ruang tengah ada perasaan tidak enak dan merinding…tapi aku tidak mendengar apa-apa sepanjang malam.” kata Yuli. Kami berlima saling berpandangan penuh tanya. Erni tiba-tiba angkat bicara “Tunggu dulu, beberapa hari yang lalu Ibu Yohana pernah bilang padaku, kalau tengah malam ada suara piano, jangan dihiraukan karena itu suara piano yang dimainkan Pak Hendry, suaminya. Tapi, tadi pagi ketika aku bertemu dengannya, sempat aku lihat beliau tidak memiliki jari? Bagaimana mungkin ia bisa main piano?” selidik Erni penuh tanya. “Betul! Sebelum masuk ke rumah ini aku juga dinasehati seperti itu oleh Bu Yohana.” ujar Puspa. Jadi, siapa yang main piano, Pak Hendry kan tidak punya jari? Lagipula iseng amat sih, seperti tidak punya waktu lain saja, masa tengah malam main piano, ganggu orang tidur saja!” jawab Yuli sedikit kesal. Gdubraaakkk, miauuuuwww…tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara kucing hitam yang melompat dari atap samping rumah. Suasana makin mencekam... Dengan isyarat mata dan telunjuk yang dikatupkan ke mulut, Mbak Zulfa melarang kami membahas lebih lanjut hal itu. Makan malam akhirnya selesai. Kami memutuskan untuk tidur bersama-sama di kamar Mbak Zulfa yang agak luas untuk menyelidiki dentingan suara piano.
Tepat jam dua malam kami berlima terbangun. Dentingan piano itu terdengar sayup-sayup. Kami sepakat mengintip bergantian satu persatu dari lubang kunci. Untungnya kamar Mbak Zulfa tepat berhadapan dengan koridor ruang tengah yang di ujungnya terdapat piano antik. Dari lubang kunci kami mengintip, yang ada hanya warna merah. Hanya warna itu yang terlihat. Entahlah, itu warna apa…namun karena takut, kami tidak berani keluar dari kamar untuk menyelidikinya lebih lanjut. Tepat jam tiga malam dentingan piano berhenti, kami pun akhirnya kembali tidur supaya besok pagi tidak telat bangun ke sekolah.
Malam berikutnya kami melakukan hal sama, mengintip! Namun selalu warna merah yang terlihat. Akhirnya hari ke delapan, tepat jam dua malam, kami sepakat untuk melihat ke luar kamar. Dengan penuh keberanian Kiki memimpin penyelidikan. Ia berada di depan sementara yang lain membuntuti di belakangnya. Dibukanya pintu kamar perlahan…di ujung ruang tengah tampak terhampar tirai merah menutupi sesuatu dibaliknya, yakni piano. “Tetapi apa maksudnya tirai itu dihamparkan?” Gumam Kiki bertanya pada Erni. “Tak tahu!” jawab Erni singkat. Mbak Zulfa memberi isyarat supaya mereka berjalan ke arah kebun samping untuk mencapai ruang tengah. Rupanya ia paham betul dari jalan mana harus memutar. Mereka berjalan mengendap-endap. Dentingan piano semakin bertambah jelas suaranya seperti berasal dari atas kepala. Mereka menengok ke atas. Di atas sudut plafon tampak sebuah sound system besar yang mengeluarkan suara piano. Rupanya dari sanalah asal suara piano tersebut. Rasa penasaran kelima anak itu semakin besar. Penyelidikan semakin mendekat ke arah ruang tengah. Sayup-sayup terdengar orang bercakap-cakap. Tampak disana Bu Yohana dan dua orang laki-laki sedang memindahkan bungkusan-bungkusan putih seukuran kantong satu kilogram gula pasir. Bungkusan itu banyak sekali, hampir setengah mobil box jumlahnya. Supaya tidak mencurigakan, akhirnya hanya satu orang yang berjalan mendekat ke arah ruang tengah, yakni Puspa. Ia berhasil mengambil salah satu bungkusan itu dan membawanya kembali pada kami.
Kami bermusyawarah di dalam kamar Mbak Zulfa. Subuh pagi itu suasana penuh dengan ketakutan. Diantara kelima anak itu, tidak ada yang mengetahui apa sebenarnya isi bungkusan tersebut. Tiba-tiba suara Yuli memecah kesunyian, “Aku punya ide, kita tes saja di Lab. Sekolah, kita tanya pada guru Sains, zat apa sebenarnya yang ada dalam kantung itu?” “Tepat!” ujar Mbak Zulfa mendukung.
Tes laboratorium dilakukan oleh Pak Sarwin, guru Sains SMP Bhakti Jaya. “Kamu dapat dari mana bungkusan ini anak-anak?” tanya Pak Sarwin pada kami penuh selidik. Akhirnya Erni menceritakan dari awal sampai akhir kegiatan yang kami lakukan selama sekitar satu minggu belakangan ini. “Kalian tahu, ini apa?” tanyanya lagi. “Tidak tahu,Pak…” jawab kami kompak. “Ini Heroin! zat yang termasuk kategori Psychotropica dan dilarang penggunaannya di seluruh dunia. “Mari kita laporkan pada Polisi, supaya nanti malam kegiatan Ibu kos kalian dan rekan-rekannya bisa diringkus!” ajak Pak Sarwin kepada kami.
Akhirnya pada malam itu, Bu Yohana beserta komplotannya ditangkap oleh Polisi.
Selanjutnya, kami berlima pindah dari rumah tersebut. Sebelum meninggalkan kos, kami berpamitan kepada Pak Hendry yang berwajah dingin itu. Beliau sempat menasehati dan bercerita tentang tindakan yang dilakukan oleh istrinya. “Setelah pergi dari rumah ini, tetap belajar yang giat ya, Nak…” ucapnya. “Jangan takut, wajah saya memang seperti ini. Kalian mulanya pasti takut ya…? Saya memang selalu menentang perilaku yang dilakukan oleh Bu Yohana. Ia sengaja menakut-nakuti dan menebar isu hantu piano bermata merah kepada orang-orang. Ia gunakan diri saya, seolah-olah sayalah yang menjadi wujud hantu mata merah itu. Padahal kalian tahu, saya tidak mempunyai jari karena penyakit kusta, bagaimana mungkin saya bisa memainkan piano seindah itu tanpa jari.” Pak Hendry menjelaskan.
Ia bercerita dengan suara yang agak parau. Dari sudut matanya tampak butiran bening mengalir. “Sejak saya pensiun dengan gaji yang kecil lima belas tahun yang lalu, Bu Yohana memulai bisnis kotor itu. Ia menginginkan kemewahan dan uang yang banyak. Saya sangat menentangnya dan pernah melaporkannya pada Polisi, tetapi ia mengancam dan akan membunuh. Ia juga akan memisahkan saya dari anak-anak. Saya tidak ingin berpisah dengan mereka. Akhirnya saya menerima nasib ini dan pasrah pada Tuhan……” ujar Pak Hendry lirih. “Ya sudah, pergilah kalian…jadilah anak yang baik dan belajar yang rajin…” kepalanya semakin tertunduk.
Kami semua terdiam, dalam hati kami merasakan kesedihan dan menaruh rasa iba yang mendalam kepada Pak Hendry.
“Ini hari pertama Erni tinggal di rumah kos ini. Tempatnya nyaman, rindang dan jauh dari keramaian. Sangat sulit sekali mendapatkan rumah kos yang bersih dan nyaman dengan harga yang murah.” gumam Erni dalam hati, sambil merebahkan diri ke tempat tidur bersprei putih.
Tidak lama ia sudah terlelap dibuai mimpi.
Keesokan paginya ketika ingin pergi ke sekolah, Erni berpapasan dengan Pak Hendry yang sedang berada di taman. Dari atas kursi roda, beliau sepertinya asyik sekali memandangi bunga-bunga Bougenville yang tumbuh merekah. “Selamat Pagi, Pak, sedang santai ya?” sapanya ramah. Beliau diam saja tak bergeming, menoleh pun tidak. Karena sudah terburu-buru, akhirnya Erni segera berlalu dan pergi. Mungkin ia tidak mendengar karena sudah tua. Dari wajahnya terlihat air muka yang tampak dingin dan datar. Sekilas, Erni melihat jemari kedua tangan Pak Hendry tidak ada, seperti orang yang pernah menderita kusta dan diamputasi. Ia tidak ingin berpikir panjang. Segera Erni mempercepat langkahnya menuju sekolah yang hanya berjarak tiga ratus meter dari tempat kos.
Malam harinya, Erni bersama Kiki, Puspa, Mbak Zulfa dan Yuli makan malam bersama. “Eh teman-teman, kemarin malam jam dua dengar tidak, ada suara piano?” tanya Kiki memulai pembicaraan. “Tidak!” jawab Puspa singkat. “Kudengar samar-samar, tapi karena keburu ngantuk, aku tidak peduli. “Aku sudah satu tahun kos di sini, kata orang-orang memang sering terdengar suara piano yang sangat misterius dari rumah ini.” ujar Mbak Zulfa menjelaskan. “Kalau aku sih tidak dengar apa-apa, mungkin terlalu lelah tidur ya, karena kecapekan beres-beres kamar.” jawab Erni. “Eh sebentar, tadi malam kan aku sempat buang air kecil sebentar sekitar jam dua, memang sih ketika lewat dekat ruang tengah ada perasaan tidak enak dan merinding…tapi aku tidak mendengar apa-apa sepanjang malam.” kata Yuli. Kami berlima saling berpandangan penuh tanya. Erni tiba-tiba angkat bicara “Tunggu dulu, beberapa hari yang lalu Ibu Yohana pernah bilang padaku, kalau tengah malam ada suara piano, jangan dihiraukan karena itu suara piano yang dimainkan Pak Hendry, suaminya. Tapi, tadi pagi ketika aku bertemu dengannya, sempat aku lihat beliau tidak memiliki jari? Bagaimana mungkin ia bisa main piano?” selidik Erni penuh tanya. “Betul! Sebelum masuk ke rumah ini aku juga dinasehati seperti itu oleh Bu Yohana.” ujar Puspa. Jadi, siapa yang main piano, Pak Hendry kan tidak punya jari? Lagipula iseng amat sih, seperti tidak punya waktu lain saja, masa tengah malam main piano, ganggu orang tidur saja!” jawab Yuli sedikit kesal. Gdubraaakkk, miauuuuwww…tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara kucing hitam yang melompat dari atap samping rumah. Suasana makin mencekam... Dengan isyarat mata dan telunjuk yang dikatupkan ke mulut, Mbak Zulfa melarang kami membahas lebih lanjut hal itu. Makan malam akhirnya selesai. Kami memutuskan untuk tidur bersama-sama di kamar Mbak Zulfa yang agak luas untuk menyelidiki dentingan suara piano.
Tepat jam dua malam kami berlima terbangun. Dentingan piano itu terdengar sayup-sayup. Kami sepakat mengintip bergantian satu persatu dari lubang kunci. Untungnya kamar Mbak Zulfa tepat berhadapan dengan koridor ruang tengah yang di ujungnya terdapat piano antik. Dari lubang kunci kami mengintip, yang ada hanya warna merah. Hanya warna itu yang terlihat. Entahlah, itu warna apa…namun karena takut, kami tidak berani keluar dari kamar untuk menyelidikinya lebih lanjut. Tepat jam tiga malam dentingan piano berhenti, kami pun akhirnya kembali tidur supaya besok pagi tidak telat bangun ke sekolah.
Malam berikutnya kami melakukan hal sama, mengintip! Namun selalu warna merah yang terlihat. Akhirnya hari ke delapan, tepat jam dua malam, kami sepakat untuk melihat ke luar kamar. Dengan penuh keberanian Kiki memimpin penyelidikan. Ia berada di depan sementara yang lain membuntuti di belakangnya. Dibukanya pintu kamar perlahan…di ujung ruang tengah tampak terhampar tirai merah menutupi sesuatu dibaliknya, yakni piano. “Tetapi apa maksudnya tirai itu dihamparkan?” Gumam Kiki bertanya pada Erni. “Tak tahu!” jawab Erni singkat. Mbak Zulfa memberi isyarat supaya mereka berjalan ke arah kebun samping untuk mencapai ruang tengah. Rupanya ia paham betul dari jalan mana harus memutar. Mereka berjalan mengendap-endap. Dentingan piano semakin bertambah jelas suaranya seperti berasal dari atas kepala. Mereka menengok ke atas. Di atas sudut plafon tampak sebuah sound system besar yang mengeluarkan suara piano. Rupanya dari sanalah asal suara piano tersebut. Rasa penasaran kelima anak itu semakin besar. Penyelidikan semakin mendekat ke arah ruang tengah. Sayup-sayup terdengar orang bercakap-cakap. Tampak disana Bu Yohana dan dua orang laki-laki sedang memindahkan bungkusan-bungkusan putih seukuran kantong satu kilogram gula pasir. Bungkusan itu banyak sekali, hampir setengah mobil box jumlahnya. Supaya tidak mencurigakan, akhirnya hanya satu orang yang berjalan mendekat ke arah ruang tengah, yakni Puspa. Ia berhasil mengambil salah satu bungkusan itu dan membawanya kembali pada kami.
Kami bermusyawarah di dalam kamar Mbak Zulfa. Subuh pagi itu suasana penuh dengan ketakutan. Diantara kelima anak itu, tidak ada yang mengetahui apa sebenarnya isi bungkusan tersebut. Tiba-tiba suara Yuli memecah kesunyian, “Aku punya ide, kita tes saja di Lab. Sekolah, kita tanya pada guru Sains, zat apa sebenarnya yang ada dalam kantung itu?” “Tepat!” ujar Mbak Zulfa mendukung.
Tes laboratorium dilakukan oleh Pak Sarwin, guru Sains SMP Bhakti Jaya. “Kamu dapat dari mana bungkusan ini anak-anak?” tanya Pak Sarwin pada kami penuh selidik. Akhirnya Erni menceritakan dari awal sampai akhir kegiatan yang kami lakukan selama sekitar satu minggu belakangan ini. “Kalian tahu, ini apa?” tanyanya lagi. “Tidak tahu,Pak…” jawab kami kompak. “Ini Heroin! zat yang termasuk kategori Psychotropica dan dilarang penggunaannya di seluruh dunia. “Mari kita laporkan pada Polisi, supaya nanti malam kegiatan Ibu kos kalian dan rekan-rekannya bisa diringkus!” ajak Pak Sarwin kepada kami.
Akhirnya pada malam itu, Bu Yohana beserta komplotannya ditangkap oleh Polisi.
Selanjutnya, kami berlima pindah dari rumah tersebut. Sebelum meninggalkan kos, kami berpamitan kepada Pak Hendry yang berwajah dingin itu. Beliau sempat menasehati dan bercerita tentang tindakan yang dilakukan oleh istrinya. “Setelah pergi dari rumah ini, tetap belajar yang giat ya, Nak…” ucapnya. “Jangan takut, wajah saya memang seperti ini. Kalian mulanya pasti takut ya…? Saya memang selalu menentang perilaku yang dilakukan oleh Bu Yohana. Ia sengaja menakut-nakuti dan menebar isu hantu piano bermata merah kepada orang-orang. Ia gunakan diri saya, seolah-olah sayalah yang menjadi wujud hantu mata merah itu. Padahal kalian tahu, saya tidak mempunyai jari karena penyakit kusta, bagaimana mungkin saya bisa memainkan piano seindah itu tanpa jari.” Pak Hendry menjelaskan.
Ia bercerita dengan suara yang agak parau. Dari sudut matanya tampak butiran bening mengalir. “Sejak saya pensiun dengan gaji yang kecil lima belas tahun yang lalu, Bu Yohana memulai bisnis kotor itu. Ia menginginkan kemewahan dan uang yang banyak. Saya sangat menentangnya dan pernah melaporkannya pada Polisi, tetapi ia mengancam dan akan membunuh. Ia juga akan memisahkan saya dari anak-anak. Saya tidak ingin berpisah dengan mereka. Akhirnya saya menerima nasib ini dan pasrah pada Tuhan……” ujar Pak Hendry lirih. “Ya sudah, pergilah kalian…jadilah anak yang baik dan belajar yang rajin…” kepalanya semakin tertunduk.
Kami semua terdiam, dalam hati kami merasakan kesedihan dan menaruh rasa iba yang mendalam kepada Pak Hendry.
Raja dan jam antik kesayangan
Tersebutlah sebuah kerajaan di pedalaman Propinsi Jawa Timur, rajanya bernama Joyoboyo dan beristrikan seorang permaisuri cantik yang bernama Dyah Prameswari. Raja yang gagah dan permaisuri yang jelita tersebut saat itu hatinya sedang berbahagia karena mereka baru saja dikaruniai putra mahkota yang diberi nama Sri Anom.
Suatu hari ketika usia Sri Anom baru mencapai dua bulan, ia harus rela ditinggal oleh sang Ayah, raja Joyoboyo, untuk pergi ke kota. Raja dan pengawal istana pergi ke kota untuk memungut pajak dan upeti dari para saudagar dan pedagang.
Tiba di kota, hampir seluruh saudagar dan pedagang telah mempersiapkan upeti dan barang berharga bagi raja. Namun lain halnya dengan pak Roso, pedagang kecil itu tidak mampu membayar pajak, apalagi harus memberikan barang berharga untuk raja. Sudah hampir dua hari ini barang dagangan pak Roso yang berupa jam antik belum ada satu pun yang terjual. Ia memohon kepada raja agar diberikan keringanan dalam membayar pajak. Pedagang kecil itu berharap raja Joyoboyo mau menerima salah satu jam antik terbaiknya sebagai pengganti uang pajak yang harus dibayarnya. Saat itu suasana hati raja masih berbahagia karena baru dikaruniai putra. Hati yang gembira itu pun membawa pengaruh dalam memutuskan permohonan pak Roso. Akhirnya dengan bijaksana, sang Raja menyetujui dan menghargai pemberian dari pak Roso. Dan setelah itu raja bersama rombongan pengawal pun kembali ke istana.
Setibanya di kerajaan, jam antik tersebut dirawat oleh raja dengan baik. Si penunjuk waktu itu menjadi jam kesayangannya, sampai-sampai ia harus mengangkat seorang pelayan istana yang bertugas menjaga dan merawat benda itu. Setiap ia melihat barang antik tersebut, raja selalu teringat saat-saat penting, yakni kelahiran putra mahkotanya, karena usia Sri Anom dan jam tersebut hampir sama.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berlalu dengan cepat. Hingga pada suatu ketika Sri anom beranjak dewasa dan usia raja Joyoboyo pun semakin bertambah. Kesehatan sang raja mulai terganggu dan lambat laun semakin parah. Ia sudah berobat ke mana-mana. Tabib dari seluruh penjuru negeri pun akhirnya dipanggil. Namun tak juga membuahkan hasil apalagi menyembuhkan raja. Akhirnya dipanggil-lah tabib dari negeri tetangga. Tabib itu kemudian meminta izin kepada raja agar diberikan kesempatan untuk bermeditasi dalam sebuah goa untuk mengetahui penyakit yang diderita sang raja. Raja Joyoboyo mengizinkannya, namun dengan satu syarat bahwa waktu yang diberikan untuk bermeditasi tidak lebih dari dua hari.
Dalam meditasinya, tabib tersebut mendapat ilham dari sang pencipta bahwa raja terkena penyakit batin karena terlalu cinta dan sayang pada suatu benda. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya adalah raja harus melepaskan benda berharga yang disayanginya itu untuk dijual. Dan uang hasil penjualannya itu harus dibagi-bagikan kepada rakyat miskin di kerajaannya.
Akhirnya raja menuruti perintah sang tabib tersebut. Ia pun menjual jam antik ke saudagar besar dan uang hasil penjualannya itu dibagi-bagikan kepada rakyat kecil di kerajaannya. Lambat laun penyakit raja berangsur-angsur mulai pulih. Hatinya menjadi lapang dan bahagia melihat rakyatnya hidup sejahtera. Raja Joyoboyo pun semakin gemar memberi dan bersifat pemurah. Penyakit raja akhirnya sembuh total dan rakyat di kerajaan pun hidup makmur dan sejahtera.
Suatu hari ketika usia Sri Anom baru mencapai dua bulan, ia harus rela ditinggal oleh sang Ayah, raja Joyoboyo, untuk pergi ke kota. Raja dan pengawal istana pergi ke kota untuk memungut pajak dan upeti dari para saudagar dan pedagang.
Tiba di kota, hampir seluruh saudagar dan pedagang telah mempersiapkan upeti dan barang berharga bagi raja. Namun lain halnya dengan pak Roso, pedagang kecil itu tidak mampu membayar pajak, apalagi harus memberikan barang berharga untuk raja. Sudah hampir dua hari ini barang dagangan pak Roso yang berupa jam antik belum ada satu pun yang terjual. Ia memohon kepada raja agar diberikan keringanan dalam membayar pajak. Pedagang kecil itu berharap raja Joyoboyo mau menerima salah satu jam antik terbaiknya sebagai pengganti uang pajak yang harus dibayarnya. Saat itu suasana hati raja masih berbahagia karena baru dikaruniai putra. Hati yang gembira itu pun membawa pengaruh dalam memutuskan permohonan pak Roso. Akhirnya dengan bijaksana, sang Raja menyetujui dan menghargai pemberian dari pak Roso. Dan setelah itu raja bersama rombongan pengawal pun kembali ke istana.
Setibanya di kerajaan, jam antik tersebut dirawat oleh raja dengan baik. Si penunjuk waktu itu menjadi jam kesayangannya, sampai-sampai ia harus mengangkat seorang pelayan istana yang bertugas menjaga dan merawat benda itu. Setiap ia melihat barang antik tersebut, raja selalu teringat saat-saat penting, yakni kelahiran putra mahkotanya, karena usia Sri Anom dan jam tersebut hampir sama.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berlalu dengan cepat. Hingga pada suatu ketika Sri anom beranjak dewasa dan usia raja Joyoboyo pun semakin bertambah. Kesehatan sang raja mulai terganggu dan lambat laun semakin parah. Ia sudah berobat ke mana-mana. Tabib dari seluruh penjuru negeri pun akhirnya dipanggil. Namun tak juga membuahkan hasil apalagi menyembuhkan raja. Akhirnya dipanggil-lah tabib dari negeri tetangga. Tabib itu kemudian meminta izin kepada raja agar diberikan kesempatan untuk bermeditasi dalam sebuah goa untuk mengetahui penyakit yang diderita sang raja. Raja Joyoboyo mengizinkannya, namun dengan satu syarat bahwa waktu yang diberikan untuk bermeditasi tidak lebih dari dua hari.
Dalam meditasinya, tabib tersebut mendapat ilham dari sang pencipta bahwa raja terkena penyakit batin karena terlalu cinta dan sayang pada suatu benda. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya adalah raja harus melepaskan benda berharga yang disayanginya itu untuk dijual. Dan uang hasil penjualannya itu harus dibagi-bagikan kepada rakyat miskin di kerajaannya.
Akhirnya raja menuruti perintah sang tabib tersebut. Ia pun menjual jam antik ke saudagar besar dan uang hasil penjualannya itu dibagi-bagikan kepada rakyat kecil di kerajaannya. Lambat laun penyakit raja berangsur-angsur mulai pulih. Hatinya menjadi lapang dan bahagia melihat rakyatnya hidup sejahtera. Raja Joyoboyo pun semakin gemar memberi dan bersifat pemurah. Penyakit raja akhirnya sembuh total dan rakyat di kerajaan pun hidup makmur dan sejahtera.
Langganan:
Postingan (Atom)
