Seperti biasanya pagi ini sebelum berangkat ke sekolah, Peleng selalu membuntuti kemana kaki Ochy melangkah. Saat Ochy, Ayah dan Ibu sarapan pun, Peleng selalu ikut sarapan di kebun samping rumah. Makanannya bukanlah snack instant untuk binatang piaraan seperti yang dijual di department store atau swalayan, melainkan hanya nasi putih dan ikan pindang. Kucing kampung itu memang telah akrab dengan Ochy dan sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Tiga tahun silam, kucing yang berwarna hitam putih itu ditemukan oleh Mas Arco, kakaknya Ochy, di halaman depan rumah. Keadaannya sangat memprihatinkan. Kaki depannya terluka seperti habis dibacok pisau, jalannya miring tidak seimbang, tampak kotor dan terkulai lemah. Ia tidak tega melihat kucing yang kepayahan. Setelah mendapat persetujuan dari ayah dan ibu, akhirnya Mas Arco dan Ochy diizinkan untuk memelihara Peleng. Syaratnya hanya satu yakni tetap menjaga kebersihan dan tidak mengabaikan pemeliharaannya.
“Sudah setahun terakhir ini, Mas Arco indekost di kota lain sambil kuliah. Pulangnya hanya seminggu sekali. Otomatis Peleng jadi lebih dekat denganku dan tanggung jawabku untuk memelihara serta menjaganya pun lebih besar”, batin Ochy dalam hati. “Ochy, makannya jangan terlalu lambat. Sudah hampir setengah tujuh, ayo lekas…nanti kamu telat ke sekolah lho!” suara Ibu membayarkan lamunan Ochy tentang Peleng. Ia pun segera mempercepat makannya.
Ketika sarapan pagi selesai, Ochy buru-buru membantu Ayah dan Ibu memasukkan koper dan sebuah tas berukuran sedang ke dalam mobil. Hari ini Ayah akan pergi ke Bandung selama empat hari untuk menyelesaikan proyek pembangunan Mal di kota kembang tersebut. Ochy dan Ayah berpamitan pada Ibu dan Bik Aan. Ochy diantar ke sekolah oleh Ayah dan selanjutnya Ayah memacu kendaraannya menuju Stasiun Gambir supaya tidak ketinggalan kereta.
“Assalamu’alaikum…Ochy pulang nih…” sapa Ochy pada orang rumah. “Oh, neng Ochy. Baru pulang ya neng? Kok sore amat?” tanya Bik Aan pada Ochy. “Iya nih Bik, tadi ada latihan tari untuk acara perpisahan kelas enam SD Harapan Jaya. Terus setelah itu kalau hari Senin seperti ini kan ada jadwal les bahasa Inggris, jadi baru tiba di rumah jam lima.” jawab Ochy. “Eh Bik, Ibu sama Peleng mana kok tidak kelihatan, sepi-sepi aja?” tanya Ochy. “Itu neng, kalau Ibunya neng Ochy sedang tugas ke rumah sakit membantu orang melahirkan, baru aja sepuluh menit yang lalu pergi. Tapi kalau Peleng ada di halaman belakang sedang Bibik sembunyikan.”
“Sembunyikan? Maksudnya? Sembunyikan gimana, Bik?” dengan kening berkerut, Ochy segera memburu pertanyaan kepada Bik Aan. “Iya neng, tadi siang ada dua orang datang ke sini, Bibik dan Ibumu tidak kenal mereka. Mereka berniat untuk mengikutsertakan Peleng dalam produk iklan makanan hewan. Tapi orangnya itu kok mencurigakan ya? Setelah bicara panjang lebar ujung-ujungnya mereka malah minta Ibumu menyerahkan Peleng kepada mereka. Katanya dua orang itu akan mendidik dan mengajari Peleng ber-acting di depan kamera. Jelas saja Ibunya neng menolak, karena orang-orang itu tidak jelas asal-usulnya dan akhirnya dengan agak sewot mereka pergi. Eh neng, tapi mereka mengancam lho! katanya suatu saat mau ke sini lagi.” kalimat terakhir dari Bik Aan membuat Ochy khawatir apalagi saat itu Ibunya tidak berada di rumah. “Ya sudah bik, ayo lekas kunci semua pintu, jendela dan pagar depan.” pinta Ochy.
Ochy segera berjalan ke halaman belakang tempat Peleng disembunyikan. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ke sudut, ke bawah meja, ke bawah kursi, ke kebun samping dan ke atas langit-langit rumah pohon di halaman belakang. Namun Peleng tetap tidak terlihat. “Puss.. puss...puss…” teriaknya. Biasanya kalau dipanggil keras seperti itu Peleng akan segera muncul karena ia kenal betul bahwa itu adalah panggilan untuk makan. Ochy lari ke dalam rumah menemui Bik Aan. “Bik...Bik Aan, Peleng Hilang!!!” Raut wajah Bik Aan cemas, tangannya gemetar. “Tadi sesaat sebelum neng Ochy pulang, masih ada kok? Pas Ibunya neng mau pergi, Peleng juga sempat ikut ke garasi. Baru setelah Ibumu pergi, Peleng saya gendong, terus saya taruh di halaman belakang. Nah, tidak lama, lima menit setelah itu neng Ochy kan pulang.” Jawab Bik Aan menjelaskan. Ochy segera menelepon Ibunya. Beliau menghibur Ochy, “Ya sudah, tenang saja jangan panik. Tugas Ibu sudah selesai. Dokter yang giliran piket malam, sudah datang. Sebentar lagi Ibu pulang, kamu sabar ya nak!” ujarnya menenangkan.
Malam itu Ochy sangat sedih sekali. Ia takut jikalau misteri hilangnya Peleng ada kaitannya dengan dua orang yang tak dikenal yang tadi siang datang ke rumahnya. Termasuk juga ancaman yang dilontarkan oleh mereka kepada Bik Aan. Malam itu juga Ochy segera menghubungi Ayahnya serta Mas Arco untuk menceritakan misteri hilangnya Peleng. Namun karena kesibukan aktivitas yang sedang mereka hadapi dan tidak bisa ditinggalkan, Mas Arco dan Ayahnya tetap tidak dapat segera pulang ke rumah untuk membantu mencari Peleng.
Keesokan harinya, Ochy, Ibunya dan juga Bik Aan segera mencari Peleng ke tempat-tempat biasanya ia bermain, seperti ke rumah tetangga dan taman komplek. Namun tetap tidak ditemukan juga. Malam harinya sesudah makan malam, Ochy dan Ibunya duduk-duduk di ruang tengah untuk menonton televisi. Tiba-tiba dari arah belakang rumah terdengar suara kucing mengeong seperti suara Peleng. Ochy segera berlari. Ibunya pun mengikuti dari belakang. Tapi ternyata, Peleng tidak ditemui. Dengan kecewa mereka berdua pun kembali ke ruang tengah. Satu jam kemudian terdengar lagi suara kucing, tetapi ketika dihampiri ke tempat asal suara, tetap tidak ditemui. Hal itu sempat terjadi berulang hingga tiga kali. Aneh dan misterius, ada suara kucing tetapi tidak ada wujud kucingnya. Pikiran Ochy berkecamuk. Ia sering membaca kisah-kisah horor tentang kucing hitam, suara hantu kucing dan firasat atau pertanda buruk yang dibawa oleh kucing. Ochy takut sekali. Ia mengikuti Ibunya terus, ia tidak mau jauh dari Ibunya. Apalagi saat itu malam jumat. Halusinasinya melayang, Ochy memang anak yang penakut. Ia sering membayangkan kejadian yang tidak-tidak. Ia berpikir jangan-jangan Peleng sudah mati dan suara yang didengarnya itu adalah arwahnya Peleng. “Tidak……!!!” teriaknya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ibunya menenangkan dan menghibur Ochy.
Deng…Deng…Deng…bunyi sepuluh kali dentangan jam dari ruang tengah mengagetkan ia dan Ibunya. Baru saja Ochy dan Ibunya bersiap-siap untuk tidur, tetapi tiba-tiba terdengar lagi suara kucing mengeong. Kali ini lebih keras dan lebih gaduh dari yang sebelumnya. Arahnya dari kebun samping rumah. Kami segera mneghampirinya. Namun ketika Ochy dan Ibunya membuka pintu samping, dua orang yang bertopeng dengan golok yang mengkilap di tangan telah menghadang kami di depan pintu.
Kami disandera oleh perampok yang kemarin siang bertamu ke rumah. Dengan cekatan, mereka menguras habis isi rumah. Tangan Ochy, Ibunya dan Bik Aan diikat, mulutnya disumbat kain dan disuruh berdiri bersandar pada jendela. “Hahahahahahahaha…, mudah sekali kami mengelabui kalian. Hanya dengan suara kucing rekaman dari tape ini, kalian bisa dengan mudah kami ringkuk sekarang!” “Huahahahahahaha….…“ tawa mereka penuh kemenangan. Rupanya perampok itu telah merekam suara kucing untuk menakut-nakuti dan menarik perhatian penghuni rumah agar keluar, sehingga mereka dapat dengan mudah masuk dan menyandera penghuni rumah.
Ochy meronta-ronta dan mengerang keras. Tubuhnya menggoncang-goncangkan jendela yang jadi sandarannya. Kayu jendela yang sudah tua dan lapuk terdengar sedikit bergetar ketika Ochy mendorong-dorong tubuhnya ke belakang. “Braaaaaakkk!!!” Jendela model tahun 70-an dengan motif horizontal tersebut ambruk. Hal itu dimanfaatkan oleh ketiga sandera untuk membuat kegaduhan dan menarik perhatian tetangga. Kedua perampok segera keluar dari kamar dan panik karena mendengar kegaduhan dari arah dapur. Ketika perampok ingin menghampiri para sandera tiba-tiba dari luar jendela yang ambruk, lompatlah Peleng dan menyerang kedua penjahat itu. Cakarnya mencengkeram dan merobek kulit leher perampok. Suasana gaduh tak dapat dihindari, tetanggapun berdatangan. Akhirnya kedua perampok berhasil diringkus dan diserahkan ke Polisi. Dari informasi yang digali oleh Polisi, keluarga Ochy mengetahui bahwa rencana perampok untuk mengikutsertakan Peleng dalam iklan produk makanan hewan hanyalah akal-akalan saja. Tujuan utama penjahat tersebut datang ke rumah Ochy adalah untuk melihat isi rumah yang akan dijadikan sasaran perampokan.
Sabtu, 02 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar