Blog ini berisi ttg semua cerita kehidupan dari awal mula sebelum adanya si Asa, tumbuh kembangnya Asa, hingga asa beranjak besar...Asa adalah putri kecil cantik kami yg lahir pada 1 Juni 2009 pukul 08.45 WIB di RSIA Hermina Podomoro. Nama panjangnya adl Safira Agnia Wibowo (dipanggilnya asa). Dia anak yg lucu, imut dan memberikan keceriaan bagi keluarga besar kami.

Sabtu, 02 Januari 2010

Raja dan jam antik kesayangan

Tersebutlah sebuah kerajaan di pedalaman Propinsi Jawa Timur, rajanya bernama Joyoboyo dan beristrikan seorang permaisuri cantik yang bernama Dyah Prameswari. Raja yang gagah dan permaisuri yang jelita tersebut saat itu hatinya sedang berbahagia karena mereka baru saja dikaruniai putra mahkota yang diberi nama Sri Anom.
Suatu hari ketika usia Sri Anom baru mencapai dua bulan, ia harus rela ditinggal oleh sang Ayah, raja Joyoboyo, untuk pergi ke kota. Raja dan pengawal istana pergi ke kota untuk memungut pajak dan upeti dari para saudagar dan pedagang.
Tiba di kota, hampir seluruh saudagar dan pedagang telah mempersiapkan upeti dan barang berharga bagi raja. Namun lain halnya dengan pak Roso, pedagang kecil itu tidak mampu membayar pajak, apalagi harus memberikan barang berharga untuk raja. Sudah hampir dua hari ini barang dagangan pak Roso yang berupa jam antik belum ada satu pun yang terjual. Ia memohon kepada raja agar diberikan keringanan dalam membayar pajak. Pedagang kecil itu berharap raja Joyoboyo mau menerima salah satu jam antik terbaiknya sebagai pengganti uang pajak yang harus dibayarnya. Saat itu suasana hati raja masih berbahagia karena baru dikaruniai putra. Hati yang gembira itu pun membawa pengaruh dalam memutuskan permohonan pak Roso. Akhirnya dengan bijaksana, sang Raja menyetujui dan menghargai pemberian dari pak Roso. Dan setelah itu raja bersama rombongan pengawal pun kembali ke istana.
Setibanya di kerajaan, jam antik tersebut dirawat oleh raja dengan baik. Si penunjuk waktu itu menjadi jam kesayangannya, sampai-sampai ia harus mengangkat seorang pelayan istana yang bertugas menjaga dan merawat benda itu. Setiap ia melihat barang antik tersebut, raja selalu teringat saat-saat penting, yakni kelahiran putra mahkotanya, karena usia Sri Anom dan jam tersebut hampir sama.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berlalu dengan cepat. Hingga pada suatu ketika Sri anom beranjak dewasa dan usia raja Joyoboyo pun semakin bertambah. Kesehatan sang raja mulai terganggu dan lambat laun semakin parah. Ia sudah berobat ke mana-mana. Tabib dari seluruh penjuru negeri pun akhirnya dipanggil. Namun tak juga membuahkan hasil apalagi menyembuhkan raja. Akhirnya dipanggil-lah tabib dari negeri tetangga. Tabib itu kemudian meminta izin kepada raja agar diberikan kesempatan untuk bermeditasi dalam sebuah goa untuk mengetahui penyakit yang diderita sang raja. Raja Joyoboyo mengizinkannya, namun dengan satu syarat bahwa waktu yang diberikan untuk bermeditasi tidak lebih dari dua hari.
Dalam meditasinya, tabib tersebut mendapat ilham dari sang pencipta bahwa raja terkena penyakit batin karena terlalu cinta dan sayang pada suatu benda. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya adalah raja harus melepaskan benda berharga yang disayanginya itu untuk dijual. Dan uang hasil penjualannya itu harus dibagi-bagikan kepada rakyat miskin di kerajaannya.
Akhirnya raja menuruti perintah sang tabib tersebut. Ia pun menjual jam antik ke saudagar besar dan uang hasil penjualannya itu dibagi-bagikan kepada rakyat kecil di kerajaannya. Lambat laun penyakit raja berangsur-angsur mulai pulih. Hatinya menjadi lapang dan bahagia melihat rakyatnya hidup sejahtera. Raja Joyoboyo pun semakin gemar memberi dan bersifat pemurah. Penyakit raja akhirnya sembuh total dan rakyat di kerajaan pun hidup makmur dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar