“Ini bu, uangnya delapan puluh ribu rupiah. Mohon diterima!” ujar Erni kepada Ibu Yohana sang pemilik rumah kos bercat putih itu. Terima kasih nak!” jawabnya sambil menyodorkan selembar kuitansi. “Nak, kamu sudah bisa tinggal disini malam ini, tempatnya sudah dibersihkan. Di sini memang sepi, tapi nyaman untuk tempat tinggal dan belajar. Kamu tentunya perlu konsentrasi yang penuh untuk belajar kan? Oh ya nak, kadang-kadang kalau malam memang suka ada suara piano, tetapi jangan dihiraukan yah, itu suara piano Pak Hendry, suami Ibu, yang suka bangun malam dan memainkan piano. Maklumlah sudah tua, sudah agak pikun. Maafkan ya kalau menganggu.” ujar Ibu Yohana menjelaskan padaku. Tidak apa-apa Bu, Erni maklum kok.” jawabku singkat.
“Ini hari pertama Erni tinggal di rumah kos ini. Tempatnya nyaman, rindang dan jauh dari keramaian. Sangat sulit sekali mendapatkan rumah kos yang bersih dan nyaman dengan harga yang murah.” gumam Erni dalam hati, sambil merebahkan diri ke tempat tidur bersprei putih.
Tidak lama ia sudah terlelap dibuai mimpi.
Keesokan paginya ketika ingin pergi ke sekolah, Erni berpapasan dengan Pak Hendry yang sedang berada di taman. Dari atas kursi roda, beliau sepertinya asyik sekali memandangi bunga-bunga Bougenville yang tumbuh merekah. “Selamat Pagi, Pak, sedang santai ya?” sapanya ramah. Beliau diam saja tak bergeming, menoleh pun tidak. Karena sudah terburu-buru, akhirnya Erni segera berlalu dan pergi. Mungkin ia tidak mendengar karena sudah tua. Dari wajahnya terlihat air muka yang tampak dingin dan datar. Sekilas, Erni melihat jemari kedua tangan Pak Hendry tidak ada, seperti orang yang pernah menderita kusta dan diamputasi. Ia tidak ingin berpikir panjang. Segera Erni mempercepat langkahnya menuju sekolah yang hanya berjarak tiga ratus meter dari tempat kos.
Malam harinya, Erni bersama Kiki, Puspa, Mbak Zulfa dan Yuli makan malam bersama. “Eh teman-teman, kemarin malam jam dua dengar tidak, ada suara piano?” tanya Kiki memulai pembicaraan. “Tidak!” jawab Puspa singkat. “Kudengar samar-samar, tapi karena keburu ngantuk, aku tidak peduli. “Aku sudah satu tahun kos di sini, kata orang-orang memang sering terdengar suara piano yang sangat misterius dari rumah ini.” ujar Mbak Zulfa menjelaskan. “Kalau aku sih tidak dengar apa-apa, mungkin terlalu lelah tidur ya, karena kecapekan beres-beres kamar.” jawab Erni. “Eh sebentar, tadi malam kan aku sempat buang air kecil sebentar sekitar jam dua, memang sih ketika lewat dekat ruang tengah ada perasaan tidak enak dan merinding…tapi aku tidak mendengar apa-apa sepanjang malam.” kata Yuli. Kami berlima saling berpandangan penuh tanya. Erni tiba-tiba angkat bicara “Tunggu dulu, beberapa hari yang lalu Ibu Yohana pernah bilang padaku, kalau tengah malam ada suara piano, jangan dihiraukan karena itu suara piano yang dimainkan Pak Hendry, suaminya. Tapi, tadi pagi ketika aku bertemu dengannya, sempat aku lihat beliau tidak memiliki jari? Bagaimana mungkin ia bisa main piano?” selidik Erni penuh tanya. “Betul! Sebelum masuk ke rumah ini aku juga dinasehati seperti itu oleh Bu Yohana.” ujar Puspa. Jadi, siapa yang main piano, Pak Hendry kan tidak punya jari? Lagipula iseng amat sih, seperti tidak punya waktu lain saja, masa tengah malam main piano, ganggu orang tidur saja!” jawab Yuli sedikit kesal. Gdubraaakkk, miauuuuwww…tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara kucing hitam yang melompat dari atap samping rumah. Suasana makin mencekam... Dengan isyarat mata dan telunjuk yang dikatupkan ke mulut, Mbak Zulfa melarang kami membahas lebih lanjut hal itu. Makan malam akhirnya selesai. Kami memutuskan untuk tidur bersama-sama di kamar Mbak Zulfa yang agak luas untuk menyelidiki dentingan suara piano.
Tepat jam dua malam kami berlima terbangun. Dentingan piano itu terdengar sayup-sayup. Kami sepakat mengintip bergantian satu persatu dari lubang kunci. Untungnya kamar Mbak Zulfa tepat berhadapan dengan koridor ruang tengah yang di ujungnya terdapat piano antik. Dari lubang kunci kami mengintip, yang ada hanya warna merah. Hanya warna itu yang terlihat. Entahlah, itu warna apa…namun karena takut, kami tidak berani keluar dari kamar untuk menyelidikinya lebih lanjut. Tepat jam tiga malam dentingan piano berhenti, kami pun akhirnya kembali tidur supaya besok pagi tidak telat bangun ke sekolah.
Malam berikutnya kami melakukan hal sama, mengintip! Namun selalu warna merah yang terlihat. Akhirnya hari ke delapan, tepat jam dua malam, kami sepakat untuk melihat ke luar kamar. Dengan penuh keberanian Kiki memimpin penyelidikan. Ia berada di depan sementara yang lain membuntuti di belakangnya. Dibukanya pintu kamar perlahan…di ujung ruang tengah tampak terhampar tirai merah menutupi sesuatu dibaliknya, yakni piano. “Tetapi apa maksudnya tirai itu dihamparkan?” Gumam Kiki bertanya pada Erni. “Tak tahu!” jawab Erni singkat. Mbak Zulfa memberi isyarat supaya mereka berjalan ke arah kebun samping untuk mencapai ruang tengah. Rupanya ia paham betul dari jalan mana harus memutar. Mereka berjalan mengendap-endap. Dentingan piano semakin bertambah jelas suaranya seperti berasal dari atas kepala. Mereka menengok ke atas. Di atas sudut plafon tampak sebuah sound system besar yang mengeluarkan suara piano. Rupanya dari sanalah asal suara piano tersebut. Rasa penasaran kelima anak itu semakin besar. Penyelidikan semakin mendekat ke arah ruang tengah. Sayup-sayup terdengar orang bercakap-cakap. Tampak disana Bu Yohana dan dua orang laki-laki sedang memindahkan bungkusan-bungkusan putih seukuran kantong satu kilogram gula pasir. Bungkusan itu banyak sekali, hampir setengah mobil box jumlahnya. Supaya tidak mencurigakan, akhirnya hanya satu orang yang berjalan mendekat ke arah ruang tengah, yakni Puspa. Ia berhasil mengambil salah satu bungkusan itu dan membawanya kembali pada kami.
Kami bermusyawarah di dalam kamar Mbak Zulfa. Subuh pagi itu suasana penuh dengan ketakutan. Diantara kelima anak itu, tidak ada yang mengetahui apa sebenarnya isi bungkusan tersebut. Tiba-tiba suara Yuli memecah kesunyian, “Aku punya ide, kita tes saja di Lab. Sekolah, kita tanya pada guru Sains, zat apa sebenarnya yang ada dalam kantung itu?” “Tepat!” ujar Mbak Zulfa mendukung.
Tes laboratorium dilakukan oleh Pak Sarwin, guru Sains SMP Bhakti Jaya. “Kamu dapat dari mana bungkusan ini anak-anak?” tanya Pak Sarwin pada kami penuh selidik. Akhirnya Erni menceritakan dari awal sampai akhir kegiatan yang kami lakukan selama sekitar satu minggu belakangan ini. “Kalian tahu, ini apa?” tanyanya lagi. “Tidak tahu,Pak…” jawab kami kompak. “Ini Heroin! zat yang termasuk kategori Psychotropica dan dilarang penggunaannya di seluruh dunia. “Mari kita laporkan pada Polisi, supaya nanti malam kegiatan Ibu kos kalian dan rekan-rekannya bisa diringkus!” ajak Pak Sarwin kepada kami.
Akhirnya pada malam itu, Bu Yohana beserta komplotannya ditangkap oleh Polisi.
Selanjutnya, kami berlima pindah dari rumah tersebut. Sebelum meninggalkan kos, kami berpamitan kepada Pak Hendry yang berwajah dingin itu. Beliau sempat menasehati dan bercerita tentang tindakan yang dilakukan oleh istrinya. “Setelah pergi dari rumah ini, tetap belajar yang giat ya, Nak…” ucapnya. “Jangan takut, wajah saya memang seperti ini. Kalian mulanya pasti takut ya…? Saya memang selalu menentang perilaku yang dilakukan oleh Bu Yohana. Ia sengaja menakut-nakuti dan menebar isu hantu piano bermata merah kepada orang-orang. Ia gunakan diri saya, seolah-olah sayalah yang menjadi wujud hantu mata merah itu. Padahal kalian tahu, saya tidak mempunyai jari karena penyakit kusta, bagaimana mungkin saya bisa memainkan piano seindah itu tanpa jari.” Pak Hendry menjelaskan.
Ia bercerita dengan suara yang agak parau. Dari sudut matanya tampak butiran bening mengalir. “Sejak saya pensiun dengan gaji yang kecil lima belas tahun yang lalu, Bu Yohana memulai bisnis kotor itu. Ia menginginkan kemewahan dan uang yang banyak. Saya sangat menentangnya dan pernah melaporkannya pada Polisi, tetapi ia mengancam dan akan membunuh. Ia juga akan memisahkan saya dari anak-anak. Saya tidak ingin berpisah dengan mereka. Akhirnya saya menerima nasib ini dan pasrah pada Tuhan……” ujar Pak Hendry lirih. “Ya sudah, pergilah kalian…jadilah anak yang baik dan belajar yang rajin…” kepalanya semakin tertunduk.
Kami semua terdiam, dalam hati kami merasakan kesedihan dan menaruh rasa iba yang mendalam kepada Pak Hendry.
Sabtu, 02 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar